Bill Gates Peringatkan AI Bisa Picu Kematian 1 Miliar Orang

Pojokberita.info – Pendiri Microsoft, Bill Gates, kembali memperingatkan risiko kecerdasan buatan (AI) yang semakin canggih. Menurut Gates, teknologi tersebut sudah cukup kuat untuk digunakan dalam skenario yang dapat menyebabkan kematian hingga 1 miliar orang jika jatuh ke tangan pihak yang berniat jahat.
Peringatan tersebut disampaikan Gates dalam wawancara dengan NBC News yang dikutip Bloomberg. Ia mengatakan AI memiliki kemampuan yang sangat besar ketika digabungkan dengan orang yang memiliki niat buruk.
“AI cukup kuat untuk mendorong sebuah peristiwa yang dapat menyebabkan satu miliar kematian,” kata Gates dalam wawancara tersebut.
Gates tidak mengatakan bahwa AI pasti akan menyebabkan kematian 1 miliar orang. Pernyataannya merupakan peringatan mengenai potensi penyalahgunaan AI dalam skenario ekstrem, terutama ketika teknologi tersebut digunakan oleh pihak dengan niat buruk.
Baca juga: Rahasia Jawaban Interview Kerja Ala Bill Gates yang Bikin HRD Langsung Terkesan
AI Bisa Menjadi Senjata bagi Pihak Berniat Jahat
Menurut Gates, salah satu risiko terbesar muncul ketika kemampuan AI yang semakin kuat digunakan oleh pihak yang memiliki niat jahat.
Ia menilai AI dapat menjadi alat yang sangat berbahaya jika digunakan untuk memperbesar kemampuan manusia dalam melakukan serangan atau tindakan merugikan dalam skala besar.
Dalam esai yang diterbitkannya pada Agustus 2026, Gates juga memperingatkan bahwa AI dapat mempermudah pelaku kejahatan melakukan penipuan, menyebarkan disinformasi, membuat deepfake, melakukan serangan siber, hingga mengancam infrastruktur penting.
Gates secara khusus menyoroti potensi serangan terhadap rumah sakit, lembaga keuangan, jaringan listrik, sistem air, serta sistem yang digunakan pemerintah.
Menurutnya, kemampuan AI yang dapat membantu menemukan celah keamanan juga berpotensi dimanfaatkan oleh penyerang untuk mengeksploitasi celah tersebut.
Gates Minta Pemerintah Ikut Mengawasi AI
Karena melihat besarnya risiko tersebut, Gates menilai pengawasan AI tidak cukup jika hanya diserahkan kepada perusahaan teknologi.
Ia mengatakan pemerintah, aparat penegak hukum, dan politisi perlu terlibat dalam menentukan standar pengamanan serta sistem pemantauan untuk AI yang semakin canggih.
Menurut Gates, self-regulation atau pengaturan yang dilakukan secara mandiri oleh perusahaan AI saja tidak cukup. Ia mendorong adanya mekanisme pengawasan yang bersifat wajib.
Gates juga menilai aturan tersebut tidak harus menghentikan perkembangan AI. Menurutnya, pengawasan diperlukan agar teknologi tetap dapat berkembang sambil mengurangi risiko penyalahgunaan.
Kill Switch Saja Tidak Cukup
Dalam wawancara yang sama, Gates turut membahas gagasan kill switch, yaitu mekanisme yang memungkinkan manusia menghentikan atau membatasi sistem AI ketika dianggap berbahaya.
Namun, menurut Gates, keberadaan kill switch saja tidak cukup untuk menghadapi risiko AI tingkat lanjut.
Ia menilai sistem yang semakin canggih perlu dipantau sejak awal dan aktivitasnya harus dicatat. Dengan begitu, manusia dapat lebih cepat mengetahui jika sebuah sistem mulai melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan tujuan awalnya.
Perdebatan mengenai mekanisme penghentian AI ini muncul di tengah meningkatnya perhatian terhadap kemampuan sistem AI yang dapat menjalankan tugas secara lebih mandiri.
Baca juga: Bill Gates Akui Menyesal Pernah Anggap Tidur Itu untuk Orang Malas
Peringatan Gates Bukan yang Pertama
Peringatan mengenai risiko AI tingkat lanjut juga disampaikan sejumlah tokoh teknologi dalam beberapa waktu terakhir.
CEO Anthropic, Dario Amodei, sebelumnya menyerukan perhatian lebih besar terhadap risiko dari perkembangan AI yang terlalu cepat. Sejumlah tokoh industri teknologi juga ikut memperdebatkan seberapa jauh pemerintah perlu terlibat dalam pengawasan AI.
Di sisi lain, pemerintah Amerika Serikat masih memperdebatkan pendekatan yang tepat terhadap regulasi AI. Presiden AS Donald Trump menolak dorongan untuk membuat kesepakatan internasional yang secara khusus mengatur risiko AI dan berpendapat institusi yang ada dapat menangani risiko tersebut.
Gates mengambil posisi berbeda. Ia mengatakan perlindungan terhadap risiko AI tetap diperlukan dan tidak semestinya dianggap menghambat persaingan teknologi antara Amerika Serikat dan China.
AI Bisa Membawa Manfaat sekaligus Risiko
Meski memperingatkan bahaya AI, Gates tidak mengatakan bahwa teknologi tersebut sepenuhnya buruk.
Dalam esainya pada Agustus 2026, ia juga membahas potensi AI untuk membantu berbagai bidang, termasuk kesehatan dan pendidikan. Namun, menurut Gates, manfaat tersebut tidak akan muncul secara otomatis dan perlu diimbangi dengan kebijakan untuk mengurangi dampak negatifnya.
Peringatan terbaru mengenai potensi satu miliar kematian karena itu lebih tepat dipahami sebagai peringatan mengenai risiko penyalahgunaan AI dalam skenario ekstrem, bukan prediksi bahwa teknologi tersebut akan benar-benar menyebabkan kematian sebanyak itu.
Seiring kemampuan AI terus berkembang, perdebatan mengenai siapa yang bertanggung jawab mengawasi teknologi tersebut juga diperkirakan akan semakin besar.
Baca Berita dan Artikel yang lain di Google News.
(dwk)




